Definition List

Responsive Advertisement

 

Bintan, hasta-sastra.com – Mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau kembali menunjukkan kiprahnya di tingkat nasional melalui ajang Ibnu Sina Education and Sports Competition (ISESCO) 2026. Dalam Lomba Karya Tulis Ilmiah Esai Tingkat Nasional yang diselenggarakan oleh Universitas Ibnu Sina (UIS) secara daring pada 13 Mei–6 Juli 2026, delegasi STAIN SAR menghadirkan gagasan inovatif yang mengangkat nilai-nilai kemaritiman sebagai solusi menghadapi ancaman polarisasi digital di Indonesia.

Tim delegasi terdiri atas Awalludin Rahmadi, Putri Lestari, dan Eza Savina. Mengusung tema besar kompetisi "Play Hard, Think Smart", ketiga mahasiswa tersebut menawarkan sebuah konsep yang memadukan literasi digital dengan kearifan lokal masyarakat Kepulauan Riau.

Dalam karya ilmiahnya, tim menyoroti meningkatnya ancaman polarisasi digital akibat fenomena echo chamber, penyebaran hoaks, disinformasi, hingga ujaran kebencian di media sosial yang berpotensi melemahkan kohesi sosial dan menurunkan tingkat kepercayaan masyarakat. Menurut mereka, tantangan tersebut membutuhkan pendekatan yang tidak hanya berbasis teknologi, tetapi juga berakar pada nilai budaya yang telah lama hidup di tengah masyarakat.

Sebagai daerah kepulauan yang dihuni oleh beragam suku bangsa seperti Melayu, Jawa, Batak, Bugis, Minangkabau, hingga Tionghoa, Kepulauan Riau dinilai memiliki modal sosial yang kuat. Laut tidak hanya menjadi jalur penghubung antarpulau, tetapi juga simbol persatuan yang membentuk budaya gotong royong, keterbukaan, toleransi, dan kehidupan yang harmonis di tengah keberagaman.

Berangkat dari kondisi tersebut, tim STAIN SAR memperkenalkan sebuah model inovasi bertajuk Digital Maritime Harmony (DMH) sebagai strategi penguatan kohesi sosial berbasis nilai kemaritiman. Model ini dirancang untuk memperkuat literasi digital masyarakat sekaligus membangun ruang interaksi yang sehat di era transformasi digital.

Digital Maritime Harmony dikembangkan melalui empat program utama. Pertama, Maritime Digital Literacy Village, yaitu program edukasi literasi digital bagi masyarakat pesisir agar lebih bijak dalam menggunakan media digital. Kedua, Maritime Diversity Forum, sebagai ruang dialog lintas budaya, agama, dan etnis untuk memperkuat semangat persatuan. Ketiga, Maritime Content Creator Academy, yang berfokus pada pembinaan mahasiswa dalam menciptakan konten digital positif bertema keberagaman dan kebangsaan. Keempat, Harmony Digital Map, yaitu platform digital yang mendokumentasikan praktik-praktik baik toleransi dan kehidupan harmonis masyarakat Kepulauan Riau.

Agar implementasinya berjalan efektif, tim juga mengusulkan penerapan pendekatan Pentahelix yaitu kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dunia usaha, komunitas, dan media. Sinergi lima unsur tersebut diharapkan mampu menciptakan ekosistem digital yang inklusif, aman, serta berkelanjutan, khususnya di wilayah kepulauan.

Bagi para delegasi, ISESCO 2026 menjadi wadah strategis untuk menunjukkan bahwa mahasiswa dari daerah perbatasan memiliki kemampuan bersaing sekaligus menawarkan solusi nyata terhadap persoalan bangsa. Mereka meyakini bahwa kearifan lokal masyarakat maritim dapat menjadi fondasi penting dalam memperkuat persatuan di tengah derasnya arus digitalisasi.

Ke depan, tim berharap gagasan Digital Maritime Harmony tidak berhenti sebagai karya ilmiah dalam kompetisi semata, melainkan dapat diwujudkan menjadi  pilot project di Kepulauan Riau melalui dukungan perguruan tinggi, pemerintah daerah, serta berbagai elemen masyarakat. Jika berhasil diterapkan, model tersebut diharapkan dapat direplikasi di berbagai wilayah kepulauan Indonesia sebagai upaya memperkuat literasi digital, menjaga kohesi sosial, dan merawat kebhinekaan secara berkelanjutan.

Post a Comment

Carousel

Responsive Advertisement

Videos

Responsive Advertisement

Gallery